Darah di Puing Eks Smelter SJI Siapa Tanggung Jawab atas Bobroknya Pengawasan Aset Negara?

Pangkalpinang – Seorang pria bernama Muhammad Alhady alias Ady Atek (30 tahun), warga Kelurahan Kampung Keramat,Kecamatan Rangkui,tewas tertimpa reruntuhan bangunan di kawasan eks Smelter SJI, Jalan Ketapang, Kelurahan Temberan, Kecamatan Bukit Intan. Lokasi itu terindikasi sebagai aset sitaan negara namun terbukti terbuka lebar,tanpa pengawasan,hingga memakan korban jiwa(14-08-2026)

Peristiwa ini menabuh genderang peringatan keras: siapa yang bertanggung jawab atas kelalaian mematikan ini?

Kejadian berlangsung sekitar pukul 17.30 WIB. Saat itu,korban diduga kuat sedang membongkar sisa-sisa struktur bangunan bersama tiga orang rekannya aktivitas yang ternyata sudah berlangsung selama tiga hari tanpa gangguan.

Pukul 17.50 WIB,saksi mata Iwan Madona (40 tahun), buruh harian yang berada di sekitar lokasi, terperanjat mendengar ledakan keras berupa suara runtuhan material.

“Saya langsung berlari mendekat yang saya temukan hanyalah tubuh Muhammad tergeletak bersimbah darah di bawah tumpukan batu dan beton nyawanya sudah tak tertolong,” ujar Iwan dengan suara bergetar,melaporkan hal itu ke Pos Satuan Polisi Air (Satpolairud) Polresta Pangkalpinang pukul 18.12 WIB.

Pukul 18.30 WIB, Jaya Wilianson(40 tahun), abang kandung korban yang bekerja sebagai petugas keamanan di Pertamina,mendapat informasi resmi dari Polsek Taman Sari dan langsung meluncur ke Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Pukul 20.30 WIB, jenazah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kepulauan Bangka Belitung untuk menjalani pemeriksaan otopsi guna memastikan penyebab kematian secara mendalam.

Hasil pemeriksaan visum awal di RS Bhayangkara memperlihatkan keparahan benturan memar parah di bagian belakang kepala, luka robek sepanjang 5 sentimeter di dagu, luka lecet 4 sentimeter di dahi, patah tulang paha kanan, serta memar dan lecet menyebar di dada, pinggang, paha, dan kaki.

Berdasarkan data medis dan keterangan saksi, diduga kuat korban tewas akibat tertimpa tumpukan material bangunan yang runtuh saat ia dan kelompoknya bekerja di lokasi tersebut.

Kawasan eks Smelter SJI ini adalah aset negara yang seharusnya berada di bawah pengawasan ketat entah di bawah tanggung jawab Kejaksaan Agung, Badan Pengelola Keuangan Negara (BPKN), atau instansi terkait lainnya.

Faktanya, selama tiga hari berturut-turut, lokasi ini dijadikan “lapak” bebas oleh korban dan kelompoknya tanpa ada satu pun petugas yang menegur, memeriksa, atau mengamankan wilayah.

“Bagaimana mungkin aset sitaan negara bisa dibuka seluas-luasnya seperti tanah milik pribadi? Pagar pembatas di mana? Penjagaan di mana? Aturan hukum dihina di sini,” ungkap Jaya dengan nada geram dan tak terbendung.

Ia menegaskan, ini bukanlah insiden pertama. Kawasan eks industri di Pangkalpinang berulang kali menjadi sasaran perampokan besi dan penjarahan aset, namun tak pernah ditangani secara serius hingga nyawa rakyat dikorbankan.

Pertanyaan besar yang kini menggantung Siapa tiga orang rekan korban yang terlibat dalam aktivitas tersebut? Diduga kuat ada praktik penjarahan terorganisir terhadap aset negara yang berjalan di bawah hidung penguasa.

Sampai saat ini, identitas mereka belum terungkap dan keberadaannya masih dalam proses verifikasi pihak berwajib.

Jaya menuntut jawaban yang tegas dan tanpa kedok:

1. Segera pasang garis polisi permanen dan berikan pengamanan ketat di seluruh area eks Smelter SJI.

2. Usut tuntas penanggung jawab resmi lokasi ini baik dari kalangan Kejaksaan, BPKN maupun instansi terkait—dan panggil mereka untuk mempertanggungjawabkan kelalaian yang berujung kematian ini.

3. Lacak, panggil, dan periksa tiga orang rekan korban; diduga ada keterlibatan lebih jauh dalam jaringan penjarahan aset negara yang harus dibongkar sampai ke akar-akarnya.

4. Pasang peringatan bahaya yang jelas dan tegakkan hukum di seluruh kawasan terlantar milik negara agar tidak ada lagi nyawa yang menjadi korban kebodohan dan kelalaian birokrasi.

Aset negara harus dijaga dengan harga mati namun nyawa rakyat jauh lebih berharga dari beton dan besi. Jika pagar tak ada, penjagaan kosong, dan pelanggaran dibiarkan berbulan-bulan, maka negara yang bertanggung jawab atas kematian Muhammad Alhady.

Besok, siapa lagi yang harus mati demi membangunkan pengawas yang terlelap***Tim Investigasi Macanputih/Tim Rajekuwek/Rajemawang/Rajebelis/Tim IMC

Catatan Redaksi: Pemberitaan ini disusun berdasarkan data awal di lapangan. Investigasi kami masih terus berjalan untuk menelusuri siapa sebenarnya pemegang kendali dan penanggung jawab resmi kawasan eks Smelter SJI ini.

Topik:
Berita
AD
PENULIS

admin

Diterbitkan: 15 August 2026 pukul 17.45

BERITA TERKAIT